Jalan Longsor di Desa Lubuk Siam Akibat Galian C Akhirnya Dibangun
Kamis, 12-12-2024 - 07:54:19 WIB š 19183
 |
| Foto: Tebing jalan yang runtuh saat pengerjaan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatra III. Tidak tampak papan anggaran di lokasi proyek. |
SERGAPONLINE.COM KAMPAR - Turap yang longsor di Desa Lubuk Siam akhirnya dibangun kembali untuk kepentingan masyarakat dan pengguna jalan umum. Proyek ini menjadi perhatian serius setelah sebelumnya menjadi viral di berbagai pemberitaan. Kepala Desa Lubuk Siam, Pebri Saputra, saat ditemui awak media pada Rabu (11/12/2024) pukul 10.00 WIB di kantornya, menyampaikan bahwa pembangunan jalan ini berkat perjuangan perangkat desa, tokoh masyarakat, dan dukungan pemerintah Kabupaten Kampar.
Pebri Saputra mengungkapkan bahwa longsornya jalan poros tersebut telah mendapat tanggapan cepat dari berbagai pihak, termasuk anggota DPRD Kabupaten Kampar. "Kami sangat berterima kasih kepada bapak Endri Domo dari PKS dan bapak Sarwo Edi yang terus memberikan arahan terkait langkah-langkah mendapatkan bantuan tanggap darurat. Alhamdulillah, pengerjaan ini dapat dilaksanakan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatra III," ujarnya.
Dampak Galian C dan Wewenang Adat
Saat ditanya terkait aktivitas Galian C di sekitar lokasi longsor, Pebri menjelaskan bahwa dampaknya terhadap lingkungan memang ada. Namun, ia menegaskan bahwa kewenangan terkait sungai ulayat berada di bawah kendali tokoh adat. "Kami di pemerintahan desa tidak memiliki wewenang mengeluarkan izin tambang, termasuk Galian C. Kegiatan ini sudah berlangsung hampir 20 tahun sebelum saya menjabat sebagai kepala desa. Walau demikian, kami tetap berupaya mendengarkan aspirasi masyarakat," katanya.
Pebri juga menyebutkan bahwa pemerintah desa pernah mengirimkan surat tembusan ke bupati, DPRD, polres, dan polsek terkait dampak Galian C. "Jika masyarakat merasa terganggu dan melapor, tentu kami akan bertindak sesuai prosedur. Namun, hingga kini belum ada pengaduan dari masyarakat," tambahnya.
Harapan untuk Solusi Bersama
Pebri berharap agar pihak terkait dapat mencari solusi terbaik terkait aktivitas Galian C, yang di satu sisi menjadi sumber mata pencaharian masyarakat, namun di sisi lain berpotensi merusak lingkungan. "Kami menyerahkan pertimbangan ini kepada tokoh adat dan pemerintah yang memiliki kewenangan lebih tinggi," tutupnya.
Editor: Jasril Chaniago
Komentar Anda :