Nelayan Kita dan Pertanian Kita,
DR H Asfifuddin Caleg DPR RI-Dapil Aceh-1 dari Partai Hanura No Urut 2
Rabu, 31-01-2024 - 22:52:25 WIB šŸ‘ 10462
Foto: DR. H. Asfifuddin, S.H, M.H.
TERKAIT:
 
  • DR H Asfifuddin Caleg DPR RI-Dapil Aceh-1 dari Partai Hanura No Urut 2
  •  

    SERGAPONLINE.COM JAKARTA - Aceh adalah sebuah provinsi yang terleak di bagian Barat Republik Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam. Dari segi geografis, Provinsi Aceh dikelilingi oleh laut yang luas (Selat Malaka, Laut Andaman, dan Samudera Hindia) yang sangat kaya dengan sumberdaya kelautannya. Disisi lain terdapat dataran tinggi bukit barisan yang membentang memberikan sumber daya alam hutan, tanaman, air dan hara tanah yang melimpah bagi kehidupan pertanian.


    Pertanyaannya, kenapa masyarakat Aceh baik sebagai nelayan atau petani masih belum termanfaatkan sumber daya tersebut secara optimum atau mengambil nilai tambah ini?, dimana kendalanya?.
    Nelayan Kita;


    Kita tidak bisa memandang Nelayan sebelah mata. Dasar berfikir untuk pengembangan nelayan sebenarnya sama seperti memikirkan masalah sebuah industri, permasalahan secara umum, diantaranya :

    (1) Fasilitas atau tempat melakukan kegiatan
    Pelabuhan Neleyan, Kuala, Kapal, dan alat tangkap di seluruh pesisir Aceh belum sempurna. Beberapa Kabupaten belum ada sebuah Pelabuhan Perikanan yang cukup memadai, dalam arti fasilitas pelabuhan sering terjadi pendangkalan, sehingga perahu nelayan sulit mencapai TP atau Dermaga. Ini adalah faktor utama yang harus dilihat dan difikirkan kembali. Banyak pengusaha Aceh yang berniat untuk mengembangkan Industri Perikanan ini, tetapi tingkat kelayakan pelabuhan daerahnya kurang mendukung. Apabila pengusaha daerah kabupaten masing-masing mau mengembangkan sektor ini akan terbuka lapangan kerja bagi keluarga nelayan setempat. Banyak manfaat yang dapat diperoleh/dinikmati oleh warganya. Hilangkan kendala utama ini, benahi dan siapkan pelabuhan tempat sandar perahu nelayan yang bisa digunakan oleh kapal-kapal nelayan baik kecil maupun besar (5 GT sampai >60 GT).
    (2) Sumber daya manusia
    Masyarakat nelayan kita umumnya masih digolongkan sebagai nelayan tradisional yang mengandalkan pengetahuan dari leluhur. Peningkatan sumberdaya manusia bukanlah pandai mengharungi lautan, tetapi harus pandai dalam ilmu kenelayanan, pandai menggunakan teknologi penangkapan dan proses penangkapan yang akurat. Pandai dalam membaca situasi iklim (musim) dan kendala lain di laut, pandai dalam memprediksi keberadaan ikan, dan masa periode keberadaan ikan (migrasi ikan) di lautan, dan padai dalam menangani (handling) hasil tangkap, sehingga kualitas yang didapat bagus.
    (3) Teknologi Penangkapan
    Minimnya teknologi penangkapan dan penanganan (handling) hasil tangkapan selalu membuat kita tertinggal dalam mendapat hasil yang maksimal. Penggunaan peralatan yang modern saat ini masih minim atau upaya modifikasi/inovatif agar selalu mempunyai nilai tambah. Mengandalkan Rumpon, Pancing Gillnet, dan Jaring lainnya, sangat banyak menggunakan energi, tenaga dan biaya. Saat ini sudah mulai adanya pengembangan Rumpon Portable yang bisa dipindah pindah, suatu hal baru dalam teknologi penangkapan. Apabila didukung dengan sumberdaya manusia yang kuat mampu mempridiksi alur migrasi ikan merupakan penting dimana rumpon portable dapat diletakkan di sekitar alur migrasi ikan tersebut, tidak lupa juga didukung dengan kapal dan fasilitas yangmemadai.
    (4) Teknologi pengolahan belum memadai
    Bila hasil tangkapan berlimpah, banyak yang tidak terjual dan membusuk. Teknologi pengolahan selalu terfokus pada keberadaan Cold Storage, yang paling utama lagi adalah cara menangani hasil tangkapan mulai dari diangkat dipermukaan air yang mengalami perbedaan 2 media (media air dan udara) mempengaruhi kualitas daging ikan. Produk perikanan sifatnya cepat busuk (protein), volume besar, dan berat. Disini nelayan perlu tata cara (SOP) penanganan dengan baik sesuai dengan jenis ikan dan tujuan pemasaran. Untuk memenuhi permintaan export (pasar global) sangat utama kualitas.
    (5) Managemen dan keuangan
    Belum serius dalam mengelola managemen, badan usaha seperti koperasi atau apapun nama lain yang bisa mengelola dan membantu dalam keuangan. Apapun kita sebagai manusia ada kekurangan dan kelebihan, ada saat kita paceklik, atau beban keuangan. Namun apabila ada managemen keuangan yang baik dapat memperkecil beban ini. Nelayan dalam 1 tahun kurang lebih 3-4 tidak efektif menangkap ikan di laut, karena ombak besar (dimusim tertentu) akan tetapi nelayan masih bisa bertahan untuk menghidupi keluarga. Selain itu, berguna untuk penilaian kelayakan usaha yang dapat diakui oleh Bank. Dengan adanya lembaga keuangan nelayan (Koperasi atau Paguyuban) dapat memperlihatkan suatu industri yang memadai dalam pengelolaan keuangan.
    (6) Pemasaran
    Pemasaran ikan Aceh masih mengandalkan pasar lokal dan pasar regional, belum dapat terjangkau pasar nasional atau internasional secara besar besaran. Walaupun ada, hanya usaha pribadi dengan produk spesifik. Kendala pemasaran selalu ada, dimana saat ikan tidak banyak pasar akan minta dengan harga tinggi, namun ketika berlimpah akan harga turun dan tidak ada permintaan. Salah satu cara memperluas pasar, tidak tergantung pada satu daerah saja (regional), nasional, dan export ke negara tetangga. Seain itu pengolahan pasca panen yang dapat dilakukan pengolahan (pengawetan) dapat dimanfaatkan dalam bentuk lain, seperti daging ikan kemasan, ikan olahan, ikan kering, ikan asap, kerupuk ikan, tepung ikan, susu ikan, dan lain seperti dijadikan pakan ternak. Peran sistim degital dalam pemasaran harus dapat dimanfaatkan.


    Petani Kita;


    Sama juga dengan nelayan, kita tidak bisa memandang petani sebelah mata. Dasar berfikir untuk pengembangan pertanian dari hulu dan hilir serta potensi sektoral secara geo-klimatologi, secara umum diantaranya:
    (1) Pelestarian sumber daya lokal
    Potensi unggulan sumber daya alam lokal belum mendapat perhatian khusus. Para petani mengejar produksi dengan bibit unggul yang sering mendapat masalah dalam perawatan, ketergantungan pada pupuk dan obat-obatan yang membuat biaya produksi tinggi. Sumber daya alam golongan tanaman asli lokal Aceh seperti Padi Lokal, Durian, Rambutan, Mangga, bahkan, banyak lain yang sudah hilang tidak dikembangkan lagi. Semua ini tahan hama sudah beradaptasi dengan iklim Aceh dan memiliki kualitas organik dan nilai jual yang lebih tinggi.
    (2) Optimalisasi lahan pertanian yang luas
    Mengoptimalkan lahan pertanian di wilyah aceh yang terhampar luas dapat dilaksanakan program unggulan, baik unggulan organik ataupun unggulan pertanian spesifik sektoral lainnya. Lahan yang luas dapat dikembangkan berbagai tanaman mengikuti kebutuhan pasar. Kita harus berfikir arif, tanaman adalah makhluk hidup, perlu tempat tumbuh yang nyaman, makanan yang cukup, dan kebutuhan lain juga cukup. Tempat tumbuh yang nyaman adalah tanah harus dibuat subur, hara tanah sebagai makanan yang dibutuhkan harus cukup dan mudah diambil oleh akar tanaman, dan lain seperti air dan sinar mata hari yang cukup.
    (3) Tersedia Sumber Air
    Sumberdaya air yang berupa irigasi sudah dikembangkan, namun jangkauan alir yang masih belum merata sampai ke lokasi sawah wilayah tertententu dan terjamin tersedia sepanjang tahun. Ini menjadi salah satu point penting dalam usaha pertanian, karena ketersediaan air sepanjang tahun tidak hanya padi yang dapat dibudidayakan, tetapi bisa dikembangkan ikan dan itik dengan pola Tani Terpadu (Mina Tani). Sumber air di dataran tinggi baik danau, air terjun, mata air harus diidentifikasi dan dipelihara untuk keberlanjutan pertanian. Perencanaan jaringan irigasi yang baik, menjamin ketersediaan air sepanjang tahun dan tidak membuat genangan/banjir di wilayah desa yang rendah.
    (4) Membangun Semangat Bertani
    Membangun psikologi masyarakat untuk mau bertani dengan semangat membangun, berkreasi, inovatif, dan modernisasi, misalnya dengan selogan “Gerakan Tani Jaya” atau nama lain yang dapat memotivasi kemauan usaha dan belajar. Saat ini banyak negara yang sudah melaksanakan gerakan ini dengan berbagai sistem, kenapa kita belum melakukannya. Mungkin keterbatasan sarana utama seperti irigasi dan/atau motivasi.
    (5) Penerapan mekasisasi pertanian
    Penggunaan peralatan teknis dapat memudahkan proses pekerjaan selain dapat efisiensi waktu dan resiko kecelakaan pekerja. Ini sangat tepat bila membentuk kelompok tani dengan modal bersama yang dapat menyediakan peralatan untuk digunakan bersama, meringankan anggota untuk biaya investasi peralatan.
    (6) Pengolahan pasca panen
    Pengololaan pasca panen dapat meningkatkan keuntungan dari nilai jual dan memperoleh bahan sisa yang bukan sebagai produk tujuan (Waste). Berbagai keuntungan lain yang dapat diperoleh, termasuk dapat memperkecil volume, tahan lama, atau menjadi makanan yang dapat dikonsumsi langsung. Teknologi pengolahan pasca panen yang berorientasi industri juga memungkinkan bila sudah ada kelompok Tani yang dapat terkumpul lahan menjadi luas dan hasil panen yang banyak.
    (7) Mengejar pemasaran
    Kendala di pemasaran dengan harga murah, petani sering mengeluh karena biaya produksi tinggi disebabkan oleh penggunaan bibit unggul yang mau tidak mau harus menggunakan pupuk yang mahal.
    Produk pertanian organik wilyah tertentu yang berlebel green/organik diminati banyak orang mampu bersaing dipasaran, selain sehat, juga nikmat rasanya.
    Menerapkan sistim degital dalam pemasaran untuk mempromosi produk tidak terkontaminasi bahan kimia industri (green) yang bernilai gizi baik, diperlukan milenial yang kreatif, memiliki sifat berkarya (inovatif) dan mampu bersaing (konpetitif).
    (8) Pemanfaatan bahan sisa (waste)
    Sia produk pertanian, baik batang, daun, buah dan akar juga dapat dijadikan sebagai bahan organis untuk menstabilkan hara tanah. Banyak cara yang dapat diterapkan dengan mudah dari sisa sumberdaya pertanian yang ada.
    Siklus organis dalam sisa batang, daun dan ranting akan dikembalikan ke tanah yang nantinya akan jadi buah kembali. Demikian juga dengan anti hama, banyak sekali dari sisa tanaman jenis tertentu yang menjadi antibiotik atau anti jamur atau anti hama. Kita tidak berhak membunuh makhluk lain, tetapi kita punya cara membuat hama tidak menyukai tanaman kita.
    Saya (DR. H. Asfifuddin, S.H, M.H.) melalui Caleg DPR RI – Dapil Aceh-1 dari Partai Hanura No. urut 2 niat untuk membantu memperjuangkan mereka, walupun nanti hanya bagian terkecil yang saya dapat perbuat. Insya Allah kalau dipercaya sebagai wakil rakyat aceh di DPR RI akan saya perjuangkan sebagai balas jasa. Harapan yang besar dari kita untuk ada perubahan dimasa yang akan datang.
    “Tersenyumlah wahai para nelayan dan petani, Tuhan takkan mengkhianati upaya dan kerja keras mu akan berbuah manis mulai hari ini, besok dan nanti”.
    Terima kasih banyak saya ucapkan kepada para pembaca tulisan ini.


    Repoter: James




     
    Berita Lainnya :
  • Pelayanan ATR/BPN Riau Patut Dipertanyakan? Aliansi Basmi Mafia Tanah Kecewa Kakanwil Tak Pernah Ada di Kantor
  • Polsek Kampar Tangkap Dua Pelaku Narkoba di Desa Sendayan
  • Salurkan BLT-DD Tahap I, Pemdes Kelemantan Barat Komitmen Jaga Transparansi dan Akuntabilitas Penyaluran
  • Wujud Polisi Cinta Petani Wakapolres Siak Kunjungi Kebun Jagung Binaan Polres Siak
  • Ditlantas Polda Riau Hadir di LKDO STIKES Payung Negeri, Tanamkan Budaya Tertib Berlalu Lintas dan Semangat Green Policing
  •  
    Komentar Anda :

     
        Indeks Berita
    01 Pelayanan ATR/BPN Riau Patut Dipertanyakan? Aliansi Basmi Mafia Tanah Kecewa Kakanwil Tak Pernah Ada di Kantor
    02 Polsek Kampar Tangkap Dua Pelaku Narkoba di Desa Sendayan
    03 Salurkan BLT-DD Tahap I, Pemdes Kelemantan Barat Komitmen Jaga Transparansi dan Akuntabilitas Penyaluran
    04 Wujud Polisi Cinta Petani Wakapolres Siak Kunjungi Kebun Jagung Binaan Polres Siak
    05 Ditlantas Polda Riau Hadir di LKDO STIKES Payung Negeri, Tanamkan Budaya Tertib Berlalu Lintas dan Semangat Green Policing
    06 Kapolres Kampar Silaturahmi Ke Pos Satkamling Batu Belah - Serahkan Bantuan & Bibit Pohon Dukung Green Policing
    07 Idul Adha 1447 H, Pemkab Bintan Laksanakan Pawai Takbir di Bintan Timur dan Salat Id di Toapaya
    08 Wali Kota Pekanbaru Kembali Merombak Kabinet Kerjanya, Beberapa Jabatan Strategis Mengalami Pergeseran
    09 Apel Kesiapan Satgas Anti Narkoba Kota Dumai 2026, Wako Paisal: Perang Melawan Narkoba Harus Lebih Keras
    10 Plt Gubernur Riau SF Hariyanto Meninjau Langsung Stadion Utama Riau di Jalan Naga Sakti Kota Pekanbaru
    11 Polsek Mandau Melakukan Pengecekan Pengelolaan Lahan Program Gerakan Penanaman Jagung Seluas 1 juta Ha Polri Dalam Program 100 Hari Asta Cita
    12 Polresta Pekanbaru Dan Instansi Terkait Gelar Program Jalur, Warga Pelabuhan Sei Duku Darat Layanan Kesehatan Gratis
    13 Kejati Riau Lakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Pemprov Riau Terkait Pemulihan Barang Milik Daerah
    14 Luar Biasa Sat PJR Ditlantas Polda Riau Gerak Cepat Evakuasi Korban Laka Tol Permai
    15 Kawal Ketahanan Pangan Nasional, Polsek Rokan IV Koto Aktif Dampingi Petani Jagung Hibrida di Koto Ruang
    16 Wabup Bagus Santoso Sambut Baik dan Apresiasi Internasional Seminar On Arabic Language And Religion
    17 Pemprov Riau dan HIMPERRA Perkuat Sinergi Bangun Rumah Untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
    18 Pengawasan Jalur Laut di Riau Diperkuat, Pemprov dan TNI AL Fokus Berantas Narkoba
    19 Sinergi TNI dan Pemerintah Daerah, Melalui Bupati Kasmarni Sekda Bengkalis Hadiri Penutupan TMMD Ke-128 di Pinggir
    20 AMI Soroti Dugaan Ketertutupan Publikasi Media di DPRD Pekanbaru
    21 Keluarga Korban Lakalantas Bongkar Dugaan Oknum Jadi Perantara Damai: ā€œKami Mencari Keadilan, Bukan Uangā€
    22 Rapat Pembahasan Permohonan Izin Pembongkaran Median dan PJU, Ditlantas Polda Riau Bahas Rekayasa Akses U-Turn
     
     
     
     
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © Sergaponline.com